Berkonflik di Jejaring Sosial adalah Pengecut

06.05
 
     @media.kompasiana.com. Sungguh menyedihkan ketika media sosial membuat orang menjadi berselisih paham dan tak jarang berakhir dengan permusuhan. Lihat para selebritis yang saling berkicau di twitter, dan tak jarang kicauannya membuat saling sindir satu dengan yang lain. Saling bantah membantah, saling caci memaki. Seolah beranggap yang paling benar.


 
      Tak ada yang salah dengan media sosial, yang salah adalah orang yang menggunakannya. Ketika masuk dalam jejaring sosial, mau tak mau akan melibatkan lebih dari dua orang yang sedang berkonflik. Ketika mau menulis entah itu di facebook ataupun twitter, pikir-pikir dulu, apakah kata-kata itu akan menyakiti orang lainkah? Apa yang sudah terlanjur tertulis ketika sudah dibaca oleh orang lain, pasti akan membekas di hati, walaupun kata-kata tersebut telah terhapus. Namanya jejaring sosial, otomatis masalah kecilpun akan terus menyebar dari orang satu ke orang yang lainnya. Masalah yang sepelepun bisa menjadi semakin runyam jika tak secepatnya terselesaikan.
        
        Konflik yang timbul dijejaring sosial bak penyakit gatal. Maunya terus garuk mengaruk tak ada henti-hentinya. Orang yang satu lalu menggaruk teman yang lainnya. Orang yang lainnya pun akan mengaruk temannya. Begitu seterusnya hingga konflik yang sebenarnya kecil menjadi semakin lama semakin membesar. Tak dipungkiri teman-teman di jejaring sosial adalah teman-teman yang sering dijumpai pula dalam kehidupan sehari-hari. Pasti dukung mendukung tanpa disadari akan terjadi.
Berkonflik di jejaring sosial merupakan sebuah hal yang memalukan dan tak jantan. Saling membenarkan diri, saling tunjuk kesalahan lewat kata-kata di jejaring sosial apa maksudnya? Konflik lewat jejaring sosial mengajarkan orang untuk tidak gentleman, mengajarkan menjadi pengecut. Terlebih orang-orang yang ikut nimbrung memberi komentar dukungan ataupun cacian, merekapun bak pengecut yang menari diatas air keruh. Tak membuat air menjadi jernih malah membuat semakin keruh. Pengecut karena tak berani berkata langsung ketika bertemu.
     
    Konflik secara pribadi hampir setiap orang mengalami. Namun setiap pribadi tak mampu mengalami bagaimana menyelesaikan konflik dengan jantan. Mendatangi dan utarakanlah kata maaf, walaupun belum tentu salah. Jika konflik melibatkan organisasi atau kelompok buatlah forum pertemuan, utarakan kesalah pahaman yang terjadi. Dalam forum inilah orang dapat memberi masukan, memberi evaluasi, memberi dukungan, memberi kekuatan, memberi maaf dan memberi semangat untuk melangkah kedepan.
     
    "Janganlah menjadikan jejaring sosial sebagai ajang membuat konflik, kalau tak ingin disebut pengecut."
Previous
Next Post »
0 Komentar